Presentation is loading. Please wait.

Presentation is loading. Please wait.

Www.alijabah.com dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi.

Similar presentations


Presentation on theme: "Www.alijabah.com dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi."— Presentation transcript:

1 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

2 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

3 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi * Yaa Allah.. jadikanlah Pertemuan kami ini pertemuan yang Engkau Rahmati.. Dan pada saat berpisah kelak senantiasa dalam lindungan-Mu… * Wahai Engkau yang Maha Memutarbalikkan hati.. tetapkanlah hati kami berada dalam jalan agama-Mu dan Ketaatan kepada-Mu.. * Aku berlindung kepada-Mu dari Ilmu yang Tidak Bermanfaat.. Hati yang tidak pernah Khusyuk.. dari Jiwa yang tidak pernah merasa Puas.. dan Doa yang Tidak Dikabulkan

4 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

5 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi (+) Merindukan Masjid seperti zaman Rasulullah sebagai Pusat Segala Kegiatan (+) Silaturrahim Tholabul ‘Ilmi Tholabul ‘Ilmi Ta’awun Ta’awun

6 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه HADIST MUSLIM dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

7 1.Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. 2.Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yg berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia & akhirat. 3.Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia & akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. 4.Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. 5.Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur'an, melainkan mereka akan diliputi : a)ketenangan, ketentraman batin b)rahmat & dikelilingi para malaikat c)serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat- malaikat yg berada di sisi-Nya. 6.Barang siapa yg ketinggalan amalnya, maka nasabnya tak juga meninggikannya.' (HR. Muslim) dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

8 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

9 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

10 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

11 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ. “ Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “ Rabb kami Adalah Allah ”. Kemudian beristiqamah, maka Malaikat akan turun kepada mereka (ketika matinya): “ Jangan kamu merasa takut dan jangan kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. ”

12 * Istaqamu اسْتَقَامُوا Istaqamu adalah fi’il madi utk orang banyak dari kata qama yg diikutkan wazan istaf’ala. Asalnya adalah istaqama, dari kata dasar (qaf-waw-mim) yg artinya berdiri. Setelah di I’lal (diproses secara ilmu saraf) jadilah istaqama. Huruf tambahannya adalah sin dan ta. Kata jadiannya (masdarnya) adalah “istiqamah”. Adanya huruf tambahan ini menjadikan arti istaqamu menjadi : berusaha sekuat tenaga utk tetap berdiri tegak, terus-menerus, konsisten. dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

13 1. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. 2. Secara terminologi, istiqomah bisa diartikan : -Abu Bakar As- Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqomah ia menjawab; bahwa istiqomah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun) 3. -Umar bin Khattab ra berkata: “Istiqomah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang” 4. -Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt” 5. -Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban” dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

14 e. -Al-Hasan berkata: “Istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan” f. -Mujahid berkata: “Istiqomah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah swt” g. -Ibnu Taimiah berkata: “Mereka beristiqomah dalam mencintai dan beribadah kepadaNya tanpa menengok kiri kanan” dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

15 * Istaqamu berikrar dgn keimanannyaterus berusaha sekuat tenaga agar keimanannya berdiri tegakterus-menerus dan konsistentidak tergoyahkan oleh cobaan hidup Dalam kaitan ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang yg akan berbahagia di akhirat adalah orang yg telah berikrar dgn keimanannya dan terus berusaha sekuat tenaga agar keimanannya berdiri tegak, terus-menerus dan konsisten, tidak tergoyahkan oleh cobaan hidup. dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

16 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

17 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

18 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

19 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi Hadist Riwayat Muslim #85, Dari Abu ‘Amr, ada yang mengatakan Abu Amrah Sufyan bin Abdullah ra, ia berkata, “Saya berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah ajarkan kepada saya suatu ucapan yang mengandung ajaran Islam dan saya tidak akan bisa menanyakan kepada orang lain selain engkau !’ teguhlah Beliau menjawab, ‘Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian teguhlah kamu dalam pendirian itu’.”

20 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi Penjelasan Hadist Kepada orang yang beriman dan berpendirian teguh dengan tidak mempersekutukan-Nya, Allah menurunkan Malaikat yang menyampaikan kabar yang menggembirakan, memberikan segala yang bermanfaat, menolak kemudaratan dan menghilangkan duka cita yang mungkin ada padanya dalam seluruh urusan duniawi maupun urusan ukhrawi. Dengan demikian, dadanya menjadi lapang dan tenteram, tidak ada kekhawatiran pada diri mereka. Sedangkan kepada orang-orang kafir, datang setan yang selalu menggoda mereka, sehingga menjadikan perbuatan buruk indah menurut pandangan mereka. Waki’ dan Ibnu Zaid berpendapat bahwa para malaikat memberikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman pada tiga keadaan, yaitu : Ketika mati, di dalam kubur dan di waktu kebangkitan.

21 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

22 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi a. Ikhlash Seorang hamba bila hanya mengharapkan keridhaan Allah dan pahala-Nya akan diberikan kekuatan untuk meniti jalan- Nya. Biarlah manusia murka dan mencela, baginya semua itu ringan dibandingkan dengan kemurkaan Allah dan adzab-Nya. Nabi shalallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَرْضَى اللهَ بِسَخَطِ النَّاسِ ، كَفَاهُ اللهُ النَّاسَ ، وَ مَنْ أَسْخَطَ اللهَ بِرِضَى النَّاسِ ، وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ “ Barang siapa yang mencari keridhaan Allah walaupun manusia murka kepadanya, Allah akan mencukupinya dari manusia. Dan barang siapa yang membuat Allah murka karena mencari keridhaan manusia, maka Allah akan menyerahkan ia kepada manusia (tidak akan ditolong oleh Allah). ” (HR. Abdu bin Humaid)[2][2]

23 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi b. Mutaba’ah Mutaba’ah artinya meniti jalan sunah dan menapaki jejak kaki Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam Tidak disebut istiqamah kecuali bila sesuai dengan sunah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

24 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi c. Mencari Teman yang Shalih الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang itu di atas agama temannya, maka hendaklah ia melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan lainnya) Teman yang shalih adalah keberuntungan yang baik bagi seorang hamba, karena ia dapat mengambil kebaikan darinya atau setidaknya ia mendapatkan wanginya. Dikala kesusahan mengganjal hatinya, ia terhibur dengan untaian nasihatnya, lebih-lebih bila teman yang shalih itu adalah seorang ahli ilmu yang bermanfaat ilmunya. Ibnu Qayyim rahimahullah bercerita, “Apabila kami merasa sangat takut, dugaan-dugaan menjadi buruk, dan bumi menjadi terasa sempit, kami mendatangi beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) maka sebatas kami mendengar ucapannya hilanglah semua perasaan tadi dan dada kami berubah menjadi lapang dan bertambah kekuatan, keyakinan, dan ketenangan.

25 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi d. Meninggalkan Dosa Dosa memberikan noda-noda hitam di hati manusia, sehingga apabila noda hitam itu telah memenuhi hati ia akan menjadi gelap gulita, tak dapat mengenal yang ma’ruf tidak juga mengingkari yang mungkar, تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتْ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ “Fitnah akan ditampakkan kepada hati seperti tikar seutas demi seutas, hati mana saja yang menerimanya akan diberikan titik hitam dan hati mana saja mengingkarinya akan diberi titik putih, sehingga menjadi dua hati: Hati yang putih bagaikan batu shofa, tidak terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada. Dan hati yang hitam seperti cangkir yang terbalik; tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.” (HR. Muslim)[10][10]

26 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi e. Shalat Malam Shalat malam adalah nutrisi kekuatan hati yang memunculkan ketegaran di kala ujian silih berganti, sebagaimana Nabi saw ketika berdakwah di kota Mekah menghadapi berbagai macam permusuhan dan siksa dari kaumnya, Allah memerintahkan beliau berdiri bermunajat di waktu malam untuk mengokohkan hati dalam memikul beban risalah. Allah Ta’ala berfirman : يَآأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ { 1 } قُمِ الَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً { 2 } نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً { 3 } أَوْزِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلاً { 4 } إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلاً ثَقِيلاً { 5 } إِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلاً { 6} “Wahai orang yang berselimut. Bangunlah di waktu malam kecuali sedikit. Setengahnya atau kurangi lagi sedikit. Atau tambahkan dan bacalah Alquran secara tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al Muzammil: 1-6).

27 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi f. Do’a Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu memohon kepada Allah agar hatinya diberi kekuatan untuk tetap tegar di atas agama-Nya. Anas radhiallahu ‘anhu berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seringkali mengucapkan, “Wahai (Dzat) Yang membolak balikkan hati, kuatkanlah hatiku di atas agamamu.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan apa yang engkau bawa, apakah engkau mengkhawatirkan kami?” Beliau menjawab, “Iya, sesungguhnya hati itu berada di antara dua jari-jemari Allah yang Dia bolak-balikkan sesuai dengan kehendak-Nya.” (HR. At Tirmidzi dan lainnya)[13][13]

28 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi g. Dzikir Ibnu Abbas berkata, “Setan selalu memperhatikan hati anak Adam, bila ia lengah dan lalai setan datang memberikan waswas, dan bila ia berdzikir kepada Allah setan akan bersembunyi.”[16][16] Dzikir memberi kekuatan kepada hati seseorang untuk senantiasa istiqamah, karena orang yang selalu ingat kepada Allah, ia akan aman untuk dilupakan oleh Allah dan bila hamba dilupakan oleh Allah ia akan sengsara di dunia dan akhirat. Akibat melupakan Allah seorang hamba akan melupakan dirinya sendiri sehingga tidak peduli kepada keselamatan dirinya. Allah Ta’ala berfirman, وَلاَتَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS. Al Hasyr: 19).

29 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi h. Membaca Perjalanan Hidup Orang-Orang yang Shalih Bila kita membaca sejarah kehidupan mereka; bagaimana kesabaran mereka dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan rintangan, kita akan merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Karena cobaan yang menimpa seseorang disesuaikan dengan keteguhannya dalam memegang agama Allah. Sa’ad bin Abi Waqqash ra berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya? Beliau bersabda, “Para Nabi kemudian setelahnya, seorang hamba diuji sesuai dengan kekuatan agamanya. Jika agamanya kokoh maka ujiannya semakin berat, dan jika agamanya tipis maka ia diuji sesuai dengan kekuatan agamanya, dan ujian akan senantiasa menerpa hamba sampai Allah biarkan ia berjalan di atas bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Ibnu Majah).[20][20] Dengan membaca kisah-kisah mereka hati kita terhibur dan menjadi kuat untuk tetap istiqamah.

30 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi i. Banyak Bertaubat dan Kembali kepada Allah Bertaubat adalah pembersih kotoran dosa yang melekat di hati manusia, dan ia adalah salah satu obat yang dapat menjaga kesehatan hati, Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa cara menjaga kesehatan hati berkaitan erat dengan cara menjaga kesehatan badan, dan beliau menyebutkan bahwa menjaga kesehatan badan adalah dengan tiga cara, beliau berkata: “Poros kesehatan adalah dengan : 1.Menjaga stamina 2.Menjauhi penyakit dan 3.Mengeluarkan unsur yang rusak Jika engkau mengetahui ini, hati pun membutuhkan sesuatu yang dapat menjaga staminanya yaitu iman dan ketaatan, dan harus dijaga dari sesuatu yang dapat merusak dan mendatangkan penyakitnya yaitu dosa, maksiat, dan berbagai macam bentuk penyimpangan. Dan harus dikeluarkan darinya unsur yang rusak yaitu dengan taubat nasuha dan memohon ampunan kepada Allah yang Maha mengampuni dosa.”[22][22]

31 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi

32 dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi * Yaa Allah.. jadikanlah Pertemuan kami ini pertemuan yang Engkau Rahmati.. Dan pada saat berpisah kelak senantiasa dalam lindungan-Mu… * Wahai Engkau yang Maha Memutarbalikkan hati.. tetapkanlah hati kami berada dalam jalan agama-Mu dan Ketaatan kepada-Mu.. * Aku berlindung kepada-Mu dari Ilmu yang Tidak Bermanfaat.. Hati yang tidak pernah Khusyuk.. dari Jiwa yang tidak pernah merasa Puas.. dan Doa yang Tidak Dikabulkan

33 85- PELEBUR DOSA MAJELIS * سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ. * 196. “Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada- Mu.” [216] * ——————————— [216] HR. Ashhaabus Sunan dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/153. Dari Aisyah Radhiallahu’anha, dia berkata: “Setiap Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam duduk di suatu tempat, setiap membaca Al-Qur’an dan setiap melakukan shalat, beliau mengakhirinya dengan beberapa kalimat.” * Aisyah Radhiallahu’anha berkata: Aku berkata: “Wahai Rasululllah! Aku melihat engkau setiap duduk di suatu majelis, membaca Al-Qur’an atau melakukan shalat, engkau selalu mengakhiri dengan beberapa kalimat itu.” * Beliau bersabda: “Ya, barangsiapa yang berkata baik akan distempel pada kebaikan itu (pahala bacaan kalimat tersebut), barangsiapa yang berkata jelek, maka kalimat tersebut merupakan penghapusnya. (Kalimat itu adalah: Subhaanaka wa bihamdika laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik).” HR. An-Nasa’i dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah, hal Imam Ahmad 6/77. Dr. Faruq Hamadah menyatakan, hadits tersebut shahih dalam Tahqiq ‘Amalul Yaum wal Lailah, karya An-Nasa’i hal Sebagian Artikel dari :

34

35

36

37

38


Download ppt "Www.alijabah.com dakwah, ukhuwah, tholabul ‘ilmi."

Similar presentations


Ads by Google